<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Kajian Jember &#124; MKI Al-Ilmu :: Majelis Kajian Islam Ilmiah Al-Ilmu &#187; aqidah</title>
	<atom:link href="http://mimbarsunnah.org/tag/aqidah/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://mimbarsunnah.org</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Fri, 23 Jul 2010 15:39:19 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Apa sih Salaf atau Salafy itu?</title>
		<link>http://mimbarsunnah.org/apa-sih-salaf-atau-salafy-itu</link>
		<comments>http://mimbarsunnah.org/apa-sih-salaf-atau-salafy-itu#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Jul 2010 10:03:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mimbarsunnah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian Utama]]></category>
		<category><![CDATA[aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[download]]></category>
		<category><![CDATA[manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[salafy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mimbarsunnah.org/?p=923</guid>
		<description><![CDATA[bismillahirrohmanirrohiim
Saudaraku kaum muslimin, mungkin ada disebagian antum belum mengetahui apa itu makna salaf, salafush sholih, salafy, mungkin juga sabagian dari kaum muslimin menganggap bahwa ini merupakan salah satu pergerakan dari pergerakan islam yang ada, atau harokah dakwah, atau yang lainnya.
Manhaj ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>bismillahirrohmanirrohiim</p>
<p>Saudaraku kaum muslimin, mungkin ada disebagian antum belum mengetahui apa itu makna salaf, salafush sholih, salafy, mungkin juga sabagian dari kaum muslimin menganggap bahwa ini merupakan salah satu pergerakan dari pergerakan islam yang ada, atau harokah dakwah, atau yang lainnya.</p>
<blockquote><p>Manhaj salaf bukanlah hasil karya orang-orang zaman sekarang, akan tetapi manhaj salaf, Ahlus Sunnah, Ahlul Hadits, atau Ahlul Atsar terdapat di dalam wahyu yang diturunkan (Al Qur’an dan As Sunnah) dengan penafsiran dan pengamalan generasi yang pertama lagi utama, yaitu generasi shahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in.</p>
<p>Termasuk salah satu perbuatan yang menyimpang dan salah satu bentuk kedzaliman adalah menyamakan manhaj salafi dengan syiar-syiar baru dan bid’ah.</p>
<p>Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:</p>
<p>“Dan Allah telah meninggikan langit-langit dan meletakkan neraca (keadilan) supaya kalian jangan melampaui batas tentang neraca itu. Dan tegakkanlah timbangan itu dengan (penuh) keadilan dan janganlah kalian mengurangi neraca itu.” (Ar Rahman: 7-9)</p></blockquote>
<p>itu penjelasan secara umum, lebih jelasnya silahkan antum download dan baca, semoga bermanfaat</p>
<p style="text-align: center;">Download:<strong><a href="http://docs.google.com/uc?id=0B9rUuylLrxA1ZTliZjg1ZGEtODBkYi00MjVjLThlMjItYzMyNTU4MmQ0ZTNh&amp;export=download&amp;hl=in"> berkenalan dengan salaf</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mimbarsunnah.org/apa-sih-salaf-atau-salafy-itu/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Prinsip-Prinsip Mengkaji Agama</title>
		<link>http://mimbarsunnah.org/prinsipprinsip-mengkaji-agama</link>
		<comments>http://mimbarsunnah.org/prinsipprinsip-mengkaji-agama#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Jun 2010 03:18:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mimbarsunnah</dc:creator>
				<category><![CDATA[aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[prinsip]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mimbarsunnah.org/?p=912</guid>
		<description><![CDATA[Penulis: Al Ustadz Qomar  ZA,LC
Menuntut ilmu agama tidak cukup bermodal semangat  saja. Harus tahu pula rambu-rambu yang telah digariskan syariat.  Tujuannya agar tidak bingung menghadapi seruan dari banyak kelompok  dakwah. Dan yang paling penting, tidak terjatuh ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis: Al Ustadz Qomar  ZA,LC</p>
<p>Menuntut ilmu agama tidak cukup bermodal semangat  saja. Harus tahu pula rambu-rambu yang telah digariskan syariat.  Tujuannya agar tidak bingung menghadapi seruan dari banyak kelompok  dakwah. Dan yang paling penting, tidak terjatuh kepada pemahaman yang  menyimpang!</p>
<p>Dewasa ini banyak sekali ‘jalan’ yang ditawarkan  untuk mempelajari dienul Islam. Masing-masing pihak sudah pasti  mengklaim jalannya sebagai yang terbaik dan benar. Melalui berbagai cara  mereka berusaha meraih pengikut sebanyak-banyaknya. Lihatlah sekeliling  kita. Ada yang menawarkan jalan dengan memenej qalbunya, ada yang  mengajak untuk ikut hura-huranya politik, ada yang menyeru umat untuk  segera mendirikan Khilafah Islamiyah, ada pula yang berkelana dari  daerah satu ke daerah lain mengajak manusia ramai-ramai ke masjid.</p>
<p>Namun  lihat pula sekeliling kita. Kondisi umat Islam masih begini-begini  saja. Kebodohan dan ketidakberdayaan masih menyelimuti. Bahkan  sepertinya makin bertambah parah.<br />
Adakah yang salah dari tindakan  mereka? Ya, bila melihat kondisi umat yang semakin jatuh dalam  kegelapan, sudah pasti ada yang salah. Mengapa mereka tidak mengajak  umat untuk kembali mempelajari agamanya saja? Mengapa mereka justru  menyibukkan umat dengan sesuatu yang berujung kesia-siaan?</p>
<p>Ahlussunnah  wal Jama’ah sebagai pewaris Nabi selalu berusaha mengamalkan apa yang  diwasiatkan Rasulullah untuk mengajak umat kembali mempelajari agamanya.  Dalam berbagai hal, Ahlussunnah tidak akan pernah keluar dari jalan  yang telah digariskan oleh Nabi . Lebih-lebih dalam mengambil dan  memahami agama di mana hal itu merupakan sesuatu yang sangat asasi pada  kehidupan. Inilah yang sebenarnya sangat dibutuhkan umat.</p>
<p>Berikut  kami akan menguraikan manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah dalam mengkaji  agama, namun kami hanya akan menyebutkan hal-hal yang sangat pokok dan  mendesak untuk diungkapkan. Tidak mungkin kita menyebut semuanya karena  banyaknya sementara ruang yang ada terbatas.</p>
<p>Makna Manhaj</p>
<p>Manhaj  dalam bahasa Arab adalah sebuah jalan terang yang ditempuh. Sebagaimana  dalam firman Allah:</p>
<p>“Dan kami jadikan untuk masing-masing  kalian syariat dan minhaj.” (Al-Maidah: 48)</p>
<p>Kata minhaj , sama  dengan kata manhaj . Kata minhaj dalam ayat tersebut diterangkan oleh  Imam ahli tafsir Ibnu Abbas, maknanya adalah sunnah. Sedang sunnah  artinya jalan yang ditempuh dan sangat terang. Demikian pula Ibnu Katsir  menjelaskan (lihat Tafsir Ibnu Katsir 2/67-68 dan Mu’jamul Wasith).</p>
<p>Yang  diinginkan dengan pembahasan ini adalah untuk menjelaskan jalan yang  ditempuh Ahlussunnah dalam mendapatkan ilmu agama. Dengan jalan itulah,  insya Allah kita akan selamat dari berbagai kesalahan atau kerancuan  dalam mendapatkan ilmu agama. Inilah rambu-rambu yang harus dipegang  dalam mencari ilmu agama:</p>
<p>1. Mengambil ilmu agama dari sumber  aslinya yaitu Al Qur’an dan As Sunnah. Allah  berfirman:<br />
“Ikutilah  apa yang diturunkan kepada kalian dari Rabb kalian dan jangan kalian  mengikuti para pimpinan selain-Nya. Sedikit sekali kalian mengambil  pelajaran darinya.” (Al-A’raf: 3)<br />
Dan Rasulullah  bersabda:<br />
“Ketahuilah  bahwasanya aku diberi Al Qur’an dan yang serupa dengannya bersamanya.”  (Shahih, HR. Ahmad dan Abu Dawud dari Miqdam bin Ma’di Karib. Lihat  Shahihul Jami’ N0. 2643)</p>
<p>2. Memahami Al Qur’an dan As Sunnah  sesuai dengan pemahaman salafus shalih yakni para sahabat dan yang  mengikuti mereka dari kalangan tabi’in dan tabi’ut tabi’in. Sebagaimana  sabda Nabi :<br />
“Sebaik-baik manusia adalah generasiku kemudian yang  setelah mereka kemudian yang setelah mereka.” (Shahih, HR Bukhari dan  Muslim)</p>
<p>Kebaikan yang berada pada mereka adalah kebaikan yang  mencakup segala hal yang berkaitan dengan agama, baik ilmu, pemahaman,  pengamalan dan dakwah.</p>
<p>Ibnul Qayyim berkata: “Nabi mengabarkan  bahwa sebaik-baik generasi adalah generasinya secara mutlak. Itu berarti  bahwa merekalah yang paling utama dalam segala pintu-pintu kebaikan.  Kalau tidak demikian, yakni mereka baik dalam sebagian sisi saja maka  mereka bukan sebaik-baik generasi secara mutlak.” (lihat Bashair Dzawis  Syaraf: 62)<br />
Dengan demikian, pemahaman mereka terhadap agama ini  sudah dijamin oleh Nabi. Sehingga, kita tidak meragukannya lagi bahwa  kebenaran itu pasti bersama mereka dan itu sangat wajar karena mereka  adalah orang yang paling tahu setelah Nabi. Mereka menyaksikan di mana  dan kapan turunnya wahyu dan mereka tahu di saat apa Nabi  mengucapkan  hadits. Keadaan yang semacam ini tentu sangat mendukung terhadap  pemahaman agama. Oleh karenanya, para ulama mengatakan bahwa ketika para  shahabat bersepakat terhadap sesuatu, kita tidak boleh menyelisihi  mereka. Dan tatkala mereka berselisih, maka tidak boleh kita keluar dari  perselisihan mereka. Artinya kita harus memilih salah satu dari  pendapat mereka dan tidak boleh membuat pendapat baru di luar pendapat  mereka.</p>
<p>Imam Syafi’i mengatakan: “Mereka (para shahabat) di atas  kita dalam segala ilmu, ijtihad, wara’ (sikap hati-hati), akal dan pada  perkara yang mendatangkan ilmu atau diambil darinya ilmu. Pendapat  mereka lebih terpuji dan lebih utama buat kita dari pendapat kita  sendiri -wallahu a’lam- … Demikian kami katakan. Jika mereka bersepakat,  kami mengambil kesepakatan mereka. Jika seorang dari mereka memiliki  sebuah pendapat yang tidak diselisihi yang lain maka kita mengambil  pendapatnya dan jika mereka berbeda pendapat maka kami mengambil  sebagian pendapat mereka. Kami tidak akan keluar dari pendapat mereka  secara keseluruhan.” (Al-Madkhal Ilas Sunan Al-Kubra: 110 dari Intishar  li Ahlil Hadits: 78].</p>
<p>Begitu pula Muhammad bin Al Hasan  mengatakan: “Ilmu itu empat macam, pertama apa yang terdapat dalam kitab  Allah atau yang serupa dengannya, kedua apa yang terdapat dalam Sunnah  Rasulullah atau yang semacamnya, ketiga apa yang disepakati oleh para  shahabat Nabi atau yang serupa dengannya dan jika mereka berselisih  padanya, kita tidak boleh keluar dari perselisihan mereka …, keempat apa  yang diangap baik oleh para ahli fikih atau yang serupa dengannya. Ilmu  itu tidak keluar dari empat macam ini.” (Intishar li Ahlil Hadits: 31)</p>
<p>Oleh  karenanya Ibnu Taimiyyah berkata: “Setiap pendapat yang dikatakan hanya  oleh seseorang yang hidup di masa ini dan tidak pernah dikatakan oleh  seorangpun yang terdahulu, maka itu salah.” Imam Ahmad mengatakan:  “Jangan sampai engkau mengeluarkan sebuah pendapat dalam sebuah masalah  yang engkau tidak punya pendahulu padanya.” (Majmu’ Fatawa: 21/291)</p>
<p>Hal  itu -wallahu a’lam- karena Nabi bersabda:<br />
“Sesungguhnya Allah  melindungi umatku untuk berkumpul di atas kesesatan.” (Hasan, HR Abu  Dawud no:4253, Ibnu Majah:395, dan Ibnu Abi Ashim dari Ka’b bin Ashim  no:82, 83 dihasankan oleh As Syaikh al Albani dalam Silsilah As-  Shahihah:1331]<br />
Jadi tidak mungkin dalam sebuah perkara agama yang  diperselisihkan oleh mereka, semua pendapat adalah salah. Karena jika  demikian berarti mereka telah berkumpul di atas kesalahan. Karenanya  pasti kebenaran itu ada pada salah satu pendapat mereka, sehingga kita  tidak boleh keluar dari pendapat mereka. Kalau kita keluar dari pendapat  mereka, maka dipastikan salah sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu  Taimiyyah di atas.</p>
<p>3. Tidak melakukan taqlid atau ta’ashshub  (fanatik) madzhab. Allah berfirman:<br />
“Ikutilah apa yang diturunkan  kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin  selain-Nya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (darinya).”  (Al-A’raf: 3)</p>
<p>“Dan apa yang diberikan Rasul kepadamu maka  terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.  Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya.”  (Al-Hasyr: 7)</p>
<p>Dengan jelas ayat di atas menganjurkan untuk  mengikuti apa yang diturunkan Allah baik berupa Al Qur’an atau hadits.  Maka ucapan siapapun yang tidak sesuai dengan keduanya berarti harus  ditinggalkan. Imam Syafi’i mengatakan: “Kaum muslimin bersepakat bahwa  siapapun yang telah jelas baginya Sunnah Nabi maka dia tidak boleh  berpaling darinya kepada ucapan seseorang, siapapun dia.” (Sifat Shalat  Nabi: 50)</p>
<p>Demikian pula kebenaran itu tidak terbatas pada  pendapat salah satu dari Imam madzhab yang empat. Selain mereka, masih  banyak ulama yang lain, baik yang sezaman atau yang lebih dulu dari  mereka. Ibnu Taimiyah mengatakan: “Sesungguhnya tidak seorangpun dari  ahlussunnah mengatakan bahwa kesepakatan empat Imam itu adalah hujjah  yang tidak mungkin salah. Dan tidak seorangpun dari mereka mengatakan  bahwa kebenaran itu terbatas padanya dan bahwa yang keluar darinya  berarti batil. Bahkan jika seorang yang bukan dari pengikut Imam-imam  itu seperti Sufyan Ats Tsauri, Al Auza’i, Al Laits bin Sa’ad dan yang  sebelum mereka atau Ahlul Ijtihadyang setelah mereka mengatakan sebuah  pendapat yang menyelisihi pendapat Imam-imam itu, maka perselisihan  mereka dikembalikan kepada Allah  dan Rasul-Nya, dan pendapat yang  paling kuat adalah yang berada di atas dalil.” (Minhajus Sunnah: 3/412  dari Al Iqna’: 95).</p>
<p>Sebaliknya, ta’ashshub (fanatik) pada  madzhab akan menghalangi seseorang untuk sampai kepada kebenaran. Tak  heran kalau sampai ada dari kalangan ulama madzhab mengatakan: “Setiap  hadits yang menyelisihi madzhab kami maka itu mansukh (terhapus  hukumnya) atau harus ditakwilkan (yakni diarahkan kepada makna yang  lain).”</p>
<p>Akhirnya madzhablah yang menjadi ukuran kebenaran bukan  ayat atau hadits. Bahkan ta’ashub semacam itu membuat kesan jelek  terhadap agama Islam sehingga menghalangi masuk Islamnya seseorang  sebagaimana terjadi di Tokyo ketika beberapa orang ingin masuk Islam dan  ditunjukkan kepada orang-orang India maka mereka menyarankan untuk  memilih madzhab Hanafi. Ketika datang kepada orang-orang Jawa atau  Indonesia mereka menyarankan untuk memilih madzhab Syafi’i. Mendengar  jawaban-jawaban itu mereka sangat keheranan dan bingung sehingga sempat  menghambat dari jalan Islam [Lihat Muqaddimah Sifat Shalat Nabi hal: 68  edisi bahasa Arab)</p>
<p>4. Waspada dari para da’i jahat. Jahat yang  dimaksud bukan dari sisi kriminal tapi lebih khusus adalah dari tinjauan  keagamaan. Artinya mereka yang membawa ajaran-ajaran yang menyimpang  dari aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah, sedikit atau banyak. Di antara  ciri-ciri mereka adalah yang suka berdalil dengan ayat-ayat yang belum  begitu jelas maknanya untuk bisa mereka tafsirkan semau mereka. Dengan  itu mereka maksudkan menebar fitnah yakni menyesatkan para pengikutnya.  Allah berfirman:<br />
“Adapun yang dalam hatinya terdapat penyelewengan  (dari kebenaran) maka mereka mengikuti apa yang belum jelas dari  ayat-ayat itu, (mereka) inginkan dengannya fitnah dan ingin  mentakwilkannya. Padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya kecuali  Allah.” (Ali-Imran: 7)</p>
<p>Ibnu Katsir mengatakan: “Menginginkan  fitnah artinya ingin menyesatkan para pengikutnya dengan mengesankan  bahwa mereka berhujjah dengan Al Qur’an untuk (membela) bid’ah mereka  padahal Al Qur’an itu sendiri menyelisihinya. Ingin mentakwilkannya  artinya menyelewengkan maknanya sesuai dengan apa yang mereka inginkan.”  (Tafsir Ibnu Katsir: 1/353]</p>
<p>5. Memilih guru yang dikenal  berpegang teguh kepada Sunnah Nabi dalam berakidah, beribadah, berakhlak  dan mu’amalah. Hal itu karena urusan ilmu adalah urusan agama sehingga  tidak bisa seseorang sembarangan atau asal comot dalam mengambilnya  tanpa peduli dari siapa dia dapatkan karena ini akan berakibat fatal  sampai di akhirat kelak. Maka ia harus tahu siapa yang akan ia ambil  ilmu agamanya.</p>
<p>Jangan sampai dia ambil agamanya dari orang yang  memusuhi Sunnah atau memusuhi Ahlussunnah atau tidak pernah diketahui  belajar akidah yang benar karena selama ini yang dipelajari adalah  akidah-akidah yang salah atau mendapat ilmu hanya sekedar hasil bacaan  tanpa bimbingan para ulama Ahlussunnah. Sangat dikhawatirkan, ia  memiliki pemahaman-pemahaman yang salah karena hal tersebut.</p>
<p>Seorang  tabi’in bernama Muhammad bin Sirin mengatakan: “Sesungguhnya ilmu ini  adalah agama maka lihatlah dari siapa kalian mengambil agama kalian.”  Beliau juga berkata: “Dahulu orang-orang tidak bertanya tentang sanad  (rangkaian para rawi yang meriwayatkan) hadits, maka tatkala terjadi  fitnah mereka mengatakan: sebutkan kepada kami sanad kalian, sehingga  mereka melihat kepada Ahlussunnah lalu mereka menerima haditsnya dan  melihat kepada ahlul bid’ah lalu menolak haditsnya.” (Riwayat Muslim  dalam Muqaddimah Shahih-nya)</p>
<p>Nabi bersabda:<br />
“Keberkahan  itu berada pada orang-orang besar kalian.” (Shahih, HR. Ibnu Hibban, Al  Hakim, Ibnu Abdil Bar dari Ibnu Abbas, dalam kitab Jami’ Bayanul Ilm  hal:614 dengan tahqiq Abul Asybal, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani  dalam Shahihul Jami’:2887 dan As Shahihah:1778)</p>
<p>Dalam ucapan  Abdullah bin Mas’ud:<br />
“Manusia tetap akan baik selama mereka  mengambil ilmu dari orang-orang besar mereka, jika mereka mengambilnya  dari orang-orang kecil dan jahat di antara mereka, maka mereka akan  binasa.” Diriwayatkan pula yang semakna dengannya dari shahabat Umar bin  Khattab. (Riwayat Ibnu Abdil Bar dalam Jami’ Bayanul Ilm hal: 615 dan  616, tahqiq Abul Asybal dan dishahihkan olehnya)</p>
<p>Ibnu Abdil Bar  menukilkan dari sebagian ahlul ilmi (ulama) maksud dari hadits di atas:  “Bahwa yang dimaksud dengan orang-orang kecil dalam hadits Umar dan  hadits-hadits yang semakna dengannya adalah orang yang dimintai fatwa  padahal tidak punya ilmu. Dan orang yang besar artinya yang berilmu  tentang segala hal. Atau yang mengambil ilmu dari para shahabat.” (Lihat  Jami’ Bayanil Ilm: 617).</p>
<p>6. Tidak mengambil ilmu dari sisi akal  atau rasio, karena agama ini adalah wahyu dan bukan hasil penemuan  akal. Allah berkata kepada Nabi-Nya:<br />
“Katakanlah (Ya, Muhammad):  ‘sesungguhnya aku memberi peringataan kepada kalian dengan wahyu.’.”  (Al-Anbiya: 45)<br />
“Dan tidaklah yang diucapkan itu (Al Qur’an) menurut  kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang  diwahyukan (kepadanya).” (An-Najm: 3-4)</p>
<p>Sungguh berbeda antara  wahyu yang bersumber dari Allah Dzat yang Maha Sempurna yang sudah pasti  wahyu tersebut memiliki kesempurnaan, dibanding akal yang berasal dari  manusia yang bersifat lemah dan yang dihasilkannya pun lemah.</p>
<p>Jadi  tidak boleh bagi siapapun meninggalkan dalil yang jelas dari Al Qur’an  ataupun hadits yang shahih karena tidak sesuai dengan akalnya. Seseorang  harus menundukkan akalnya di hadapan keduanya.</p>
<p>Ali bin Abi  Thalib berkata: “Seandainya agama ini dengan akal maka tentunya bagian  bawah khuf (semacam kaos kaki yang terbuat dari kulit) lebih utama untuk  diusap (pada saat berwudhu-red) daripada bagian atasnya. Dan sungguh  aku melihat Rasulullah mengusap bagian atas khuf-nya.” (shahih, HR Abu  Dawud dishahihkan As-Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud  no:162).<br />
Pada ucapan beliau ada keterangan bahwa dibolehkan  seseorang mengusap bagian atas khuf-nya atau kaos kaki atau sepatunya  ketika berwudhu dan tidak perlu mencopotnya jika terpenuhi syaratnya  sebagaimana tersebut dalam buku-buku fikih. Yang jadi bahasan kita  disini adalah ternyata yang diusap justru bagian atasnya, bukan bagian  bawahnya. Padahal secara akal yang lebih berhak diusap adalah bagian  bawahnya karena itulah yang kotor.</p>
<p>Ini menunjukkan bahwa agama  ini murni dari wahyu dan kita yakin tidak akan bertentangan dengan akal  yang sehat dan fitrah yang selamat. Masalahnya, terkadang akal tidak  memahami hikmahnya, seperti dalam masalah ini. Bisa jadi syariat melihat  dari pertimbangan lain yang belum kita mengerti.</p>
<p>Jangan sampai  ketidakmengertian kita menjadikan kita menolak hadits yang shahih atau  ayat Al Qur’an yang datang dari Allah yang pasti membawa kebaikan pada  makhluk-Nya. Hendaknya kita mencontoh sikap Ali bin Abi Thalib di atas.</p>
<p>Abul  Mudhaffar As Sam’ani menerangkan Akidah Ahlussunnah, katanya: “Adapun  para pengikut kebenaran mereka menjadikan Kitab dan Sunnah sebagai  panutan mereka, mencari agama dari keduanya. Adapun apa yang terbetik  dalam akal dan benak, mereka hadapkan kepada Kitab dan Sunnah. Kalau  mereka dapati sesuai dengan keduanya mereka terima dan bersyukur kepada  Allah yang telah memperlihatkan hal itu dan memberi mereka taufik. Tapi  kalau mereka dapati tidak sesuai dengan keduanya mereka meninggalkannya  dan mengambil Kitab dan Sunnah lalu menuduh salah terhadap akal mereka.  Karena sesungguhnya keduanya tidak akan menunjukkan kecuali kepada yang  haq (kebenaran), sedangkan pendapat manusia kadang benar kadang salah.”  (Al-Intishar li Ahlil Hadits: 99)</p>
<p>Ibnul Qoyyim menyimpulkan  bahwa pendapat akal yang tercela itu ada beberapa macam:<br />
a. Pendapat  akal yang menyelisihi nash Al Qur’an atau As Sunnah.<br />
b. Berbicara  masalah agama dengan prasangka dan perkiraan yang dibarengi dengan sikap  menyepelekan mempelajari nash-nash, serta memahami dan mengambil hukum  darinya.<br />
c. Pendapat akal yang berakibat menolak asma’ (nama) Allah,  sifat-sifat dan perbuatan-Nya dengan teori atau qiyas yang batil yang  dibuat oleh para pengikut filsafat.<br />
d. Pendapat yang mengakibatkan  tumbuhnya bid’ah dan matinya Sunnah.<br />
e. Berbicara dalam hukum-hukum  syariat sekedar dengan anggapan baik dan prasangka.<br />
Adapun pendapat  akal yang terpuji, secara ringkas adalah yang sesuai dengan syariat  dengan tetap mengutamakan dalil syariat. (lihat, I’lam Muwaqqi’in:  1/104-106, Al- Intishar: 21,24, dan Al Aql wa Manzilatuhu)</p>
<p>7.  Menghindari perdebatan dalam agama. Nabi bersabda:<br />
“Tidaklah  sebuah kaum sesat setelah mereka berada di atas petunjuk kecuali mereka  akan diberi sifat jadal (berdebat). Lalu beliau membaca ayat, artinya:  ‘Bahkan mereka adalah kaum yang suka berbantah-bantahan’.” (Hasan, HR  Tirmidzi dari Abu Umamah Al Bahili, dihasankan oleh As Syaikh Al Albani  dalam Shahihul Jami’ no: 5633)</p>
<p>Ibnu Rajab mengatakan: “Di antara  sesuatu yang diingkari para Imam salafus shalih adalah perdebatan,  berbantah-bantahan dalam masalah halal dan haram. Itu bukan jalannya  para Imam agama ini.” (Fadl Ilm Salaf 57 dari Al-Intishar: 94).</p>
<p>Ibnu  Abil Izz menerangkan makna mira’ (berbantah-bantahan) dalam agama Allah  adalah membantah ahlul haq (pemegang kebenaran) dengan menyebutkan  syubhat-syubhat ahlul bathil, dengan tujuan membuat keraguan padanya dan  menyimpangkannya. Karena perbuatan yang demikian ini mengandung ajakan  kepada kebatilan dan menyamarkan yang hak serta merusak agama Islam.  (Syarh Aqidah Thahawiyah: 313)</p>
<p>Oleh karenanya Allah  memerintahkan berdebat dengan yang paling baik. Firman-Nya:<br />
“Ajaklah  kepada jalan Rabb-Mu dengan hikmah, mau’idhah (nasihat) yang baik dan  berdebatlah dengan yang paling baik.” (An-Nahl: 125).</p>
<p>Para ulama  menerangkan bahwa perdebatan yang paling baik bisa terwujud jika niat  masing-masing dari dua belah pihak baik. Masalah yang diperdebatkan juga  baik dan mungkin dicapai kebenarannya dengan diskusi. Masing-masing  beradab dengan adab yang baik, dan memang punya kemampuan ilmu serta  siap menerima yang haq jika kebenaran itu muncul dari hasil perdebatan  mereka. Juga bersikap adil serta menerima kembalinya orang yang kembali  kepada kebenaran. (lihat rinciannya dalam Mauqif Ahlussunnah 2/587-611  dan Ar-Rad ‘Alal Mukhalif hal:56-62).</p>
<p>Perdebatan para shahabat  dalam sebuah masalah adalah perdebatan musyawarah dan nasehat. Bisa jadi  mereka berselisih dalam sebuah masalah ilmiah atau amaliah dengan tetap  bersatu dan berukhuwwah. (Majmu’ Fatawa 24/172)</p>
<p>Inilah beberapa  rambu-rambu dalam mengambil ilmu agama sebagaimana terdapat dalam Al  Qur’an maupun hadits yang shahih serta keterangan para ulama. Kiranya  itu bisa menjadi titik perhatian kita dalam kehidupan beragama ini,  sehingga kita berharap bisa beragama sesuai yang diinginkan oleh Allah  dan Rasul-Nya. </p>
<p>(  http://www.asysyariah.com/print.php?id_online=67 )</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mimbarsunnah.org/prinsipprinsip-mengkaji-agama/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berita Tentang Hari Kiamat</title>
		<link>http://mimbarsunnah.org/berita-tentang-hari-kiamat</link>
		<comments>http://mimbarsunnah.org/berita-tentang-hari-kiamat#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Jun 2010 14:24:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mimbarsunnah</dc:creator>
				<category><![CDATA[aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[kiamat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost/wordpress/?p=726</guid>
		<description><![CDATA[Datangnya hari kiamat adalah suatu kepastian. Hanya  saja berita tentang hari kiamat ini terasa asing atau terlupakan bagi  sebagian manusia yang hidup mereka tersibukkan dengan bermain-main,  lalai, mengenyangkan diri dengan syahwat dunia dan kelezatannya.  Kenikmatan dunia ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Datangnya hari kiamat adalah suatu kepastian. Hanya  saja berita tentang hari kiamat ini terasa asing atau terlupakan bagi  sebagian manusia yang hidup mereka tersibukkan dengan bermain-main,  lalai, mengenyangkan diri dengan syahwat dunia dan kelezatannya.  Kenikmatan dunia berupa harta, anak-anak, dan sebagainya telah melupakan  mereka akan pertemuan dengan hari tersebut. Padahal hari kiamat  demikian dekatnya. Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman:<br />
<span>اقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانْشَقَّ  الْقَمَرُ</span><br />
&#8220;Telah dekat hari kiamat dan telah terbelah bulan.&#8221;  (Al-Qamar: 1)<br />
<span>يَسْأَلُكَ  النَّاسُ عَنِ السَّاعَةِ قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ اللهِ وَمَا  يُدْرِيكَ لَعَلَّ السَّاعَةَ تَكُونُ قَرِيبًا</span><br />
&#8220;Manusia  bertanya kepadamu tentang (kapan datangnya) hari kiamat. Katakanlah,  ‘Sesungguhnya pengetahuan tentang kapan datangnya hari kiamat itu  hanyalah di sisi Allah.’ Dan tahukah kamu (wahai Muhammad) boleh jadi  hari kiamat itu sudah dekat waktunya?&#8221; (Al-Ahzab: 63)<br />
Sahabat yang  mulia Anas bin Malik radhiyallahu &#8216;anhu mengabarkan bahwa Nabi  Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam pernah bersabda:<br />
<span>بُعِثْتُ أَناَ وَالسَّاعَةُ كَهاتَيْنِ. وَأَشَارَ  بِأَصْبِعَيْهِ السَّبَابَةِ وَالْوُسْطَى</span><br />
&#8220;Diutusnya aku  dengan datangnya hari kiamat seperti dua jari ini.&#8221; Beliau memberi  isyarat dengan jari telunjuk dan jari tengahnya. (HR. Al-Bukhari dan  Muslim)<br />
Hari kiamat ini tidak akan menimpa kecuali sejelek-jelek  manusia, karena orang-orang yang memiliki iman walaupun sangat tipis  telah diwafatkan sebelumnya. Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam  mengabarkan:<br />
<span>لاَ تَقُوْمُ  السَّاعَةُ إِلاَّ عَلىَ شِرَارِ النَّاسِ</span><br />
&#8220;Tidak akan datang  hari kiamat kecuali pada sejelek-jelek manusia.&#8221; (HR. Muslim)<br />
Diawali  hari kiamat dengan tiupan sangkakala oleh malaikat Israfil. Maka  matilah seluruh penduduk langit dan penghuni bumi kecuali yang Allah  Subhanahu wa Ta&#8217;ala kehendaki. Kemudian diikuti tiupan kedua maka  bangkitlah seluruh manusia dari dalam kuburnya.<br />
<span>وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَصَعِقَ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ  وَمَنْ فِي اْلأَرْضِ إِلاَّ مَنْ شَاءَ اللهُ ثُمَّ نُفِخَ فِيهِ أُخْرَى  فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنْظُرُونَ</span><br />
&#8220;Dan ditiuplah sangkakala  maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali yang Allah  kehendaki. Kemudian ditiup lagi tiupan yang lain maka tiba-tiba mereka  bangkit dari kubur mereka dalam keadaan menanti (putusannya  masing-masing).&#8221; (Az-Zumar: 68)<br />
Hari itu adalah hari yang sangat  mengerikan. Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala menggambarkannya dalam firman-Nya:<br />
<span>يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ  إِنَّ زَلْزَلَةَ السَّاعَةِ شَيْءٌ عَظِيمٌ. يَوْمَ تَرَوْنَهَا تَذْهَلُ  كُلُّ مُرْضِعَةٍ عَمَّا أَرْضَعَتْ وَتَضَعُ كُلُّ ذَاتِ حَمْلٍ  حَمْلَهَا وَتَرَى النَّاسَ سُكَارَى وَمَا هُمْ بِسُكَارَى وَلَكِنَّ  عَذَابَ اللهِ شَدِيدٌ</span><br />
&#8220;Wahai sekalian manusia, bertakwalah  kalian kepada Rabb kalian, sesungguhnya goncangan hari kiamat itu adalah  suatu kejadian yang sangat besar (dahsyat). Pada hari itu ketika kalian  melihat kegoncangan tersebut, lalailah semua wanita yang menyusui  anaknya dari anak yang disusuinya dan gugurlah kandungan semua wanita  yang hamil dan kalian lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal  sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi azab Allah itu sangat keras.&#8221;  (Al-Hajj: 1-2)<br />
Usai tiupan kedua, manusia bangkit dari kubur-kubur  mereka dalam keadaan tanpa busana, tanpa alas kaki, dan belum dikhitan.  Tidak ada seorang pun yang menoleh kepada yang lain karena kegelisahan  yang menyelimuti. Semua dicekam ketakutan! Ketika Aisyah radhiyallahu  &#8216;anha mendengar berita ini dari Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa  sallam, ia berucap:<br />
<span>ياَ  رَسُوْلَ اللهِ، الرِّجَالُ وَالنِّسَاءُ جَمِيْعًا يَنْظُرُ بَعْضُهُمْ  إِلَى بَعْضٍ؟ فَقَالَ صلى الله عليه وسلم: الْأَمْرُ أَشَدُّ مِنْ أَنْ  يُهِمَّهُمْ ذَلِكَ</span><br />
&#8220;Wahai Rasulullah, para lelaki dan para  wanita seluruhnya dikumpulkan dalam keadaan demikian berarti sebagian  mereka akan melihat aurat sebagian yang lain?&#8221; Rasulullah Shallallahu  &#8216;alaihi wa sallam menjawab, &#8220;Perkaranya terlalu dahsyat dari membuat  mereka berkeinginan demikian.&#8221; (HR. Al-Bukhari dan Muslim)<br />
Termasuk  perkara yang menambah kedahsyatan hari tersebut adalah didekatkannya  matahari dengan manusia sehingga peluh mereka bercucuran. Abu Hurairah  radhiyallahu &#8216;anhu berkata, &#8220;Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam  bersabda:<br />
<span>يَعْرَقُ النَّاسُ  يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يَذْهَبَ عَرَقُهُمْ فِي الْأَرْضِ سَبْعِيْنَ  ذِرَاعًا وَيُلْجِمُهُمْ حَتَّى يَبْلُغَ آذَانَهُمْ</span><br />
&#8220;Manusia  berkeringat pada hari kiamat sampai-sampai keringat mereka bercucuran ke  bumi setinggi 70 hasta dan mengekang (menenggelamkan) mereka sampai  mencapai telinga-telinga mereka.&#8221; (HR. Al-Bukhari dan Muslim)<br />
Al-Miqdad  ibnul Aswad radhiyallahu &#8216;anhu mengabarkan, &#8220;Aku pernah mendengar  Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda:<br />
<span>تُدْنىَ الشَّمْسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنَ  الْخَلْقِ حَتَّى تَكُوْنَ مِنْهُمْ كَمِقْدَارِ مِيْلٍ -قَالَ سُلَيْمُ  بْنُ عَامِرٍ: فَوَاللهِ، مَا أَدْرِي مَا يَعْنِي بِالْمِيلِ، أَمَسَافَةُ  الْأَرْضِ أَمِ الْمِيْلُ الَّذِي تُكْتَحَلُ بِهِ الْعَيْنُ- قَالَ:  فَيَكُوْنُ النَّاسُ عَلىَ قَدْرِ أَعْمَالِهِمْ فِي الْعَرَقِ، فَمِنْهُمْ  مَنْ يَكُوْنُ إِلَى كَعْبَيْهِ, وَمِنْهُمْ مَنْ يَكُوْنُ إِلَى  رُكْبَتَيْهِ, وَمِنْهُمْ مَنْ يَكُوْنُ إِلَى حَقْوَيْهِ, وَمِنْهُمْ مَنْ  يُلْجِمُهُ الْعَرَقُ إِلْجَامًا. وَأَشَارَ رَسُوْلُ اللهِ</span> n <span>إِلَى فِيْهِ</span>.<br />
&#8220;Didekatkan  matahari dengan makhluk (manusia) pada hari kiamat hingga jarak matahari  dari mereka seukuran mil.&#8221; –Sulaim bin ‘Amir (perawi yang meriwayatkan  dari Al-Miqdad, pent.), &#8220;Demi Allah, aku tidak tahu apa yang beliau  maksudkan dengan mil, apakah ukuran jarak ataukah kayu/alat yang  digunakan untuk mencelaki mata.&#8221;–Rasulullah bersabda, &#8220;Maka manusia  (pada saat itu) dibanjiri peluh sesuai kadar amalan mereka. Di antara  mereka ada yang keringatnya sampai kedua mata kakinya. Di antara mereka  ada yang keringatnya sampai kedua lututnya. Di antara mereka ada yang  keringatnya sampai kedua pinggangnya. Dan di antara mereka ada yang  benar-benar ditenggelamkan oleh keringatnya.&#8221; Rasulullah Shallallahu  &#8216;alaihi wa sallam memberi isyarat ke mulutnya.&#8221; (HR. Muslim)<br />
Di saat  kebanyakan manusia tersiksa dengan panas yang sangat, peluh yang  membanjiri dan ketakutan yang sangat, ada segolongan orang yang dinaungi  oleh Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala dengan naungan-Nya. Mereka tidak  merasakan apa yang diderita oleh orang-orang lain. Di antara mereka  adalah yang dikabarkan oleh Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dalam  sabdanya:<br />
<span>سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ  اللهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ: إِمَامٌ عَادِلٌ,  وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ اللهِ, وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلِّقٌ  بِالْمَسَاجِدِ, وَرَجُلاَنِ تَحَابَّا فِي اللهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ  وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ, وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصَبٍ  وَجَمَالٍ فَقَالَ: إِنِّي أَخَافُ اللهَ, وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ  فَأَخْفَاهَا حَتَّى لاَ تَعْلَمُ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِيْنُهُ,  وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ</span><br />
&#8220;Ada tujuh  golongan yang Allah naungi dalam naungan-Nya pada hari tidak ada  naungan kecuali naungan-Nya. Mereka adalah imam (pemimpin) yang adil,  pemuda yang tumbuh dalam beribadah kepada Allah, lelaki yang hatinya  selalu terikat/terpaut dengan masjid-masjid, dua orang yang saling  mencintai karena Allah mereka berkumpul karena Allah dan berpisah karena  Allah, (kemudian) seorang lelaki yang diajak berzina oleh seorang  wanita yang punya kedudukan dan kecantikan namun ia berkata, &#8220;Sungguh  aku takut kepada Allah.&#8221; (Yang berikutnya) seorang yang bersedekah lalu  ia menyembunyikannya sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa  yang diinfakkan oleh tangan kanannya dan seseorang yang berzikir  (mengingat) Allah dalam keadaan sendirian lalu mengalir air matanya.&#8221;  (HR. Al-Bukhari dan Muslim)<br />
Saudariku, bayangkanlah kengerian pada  hari itu. Manusia berdiri di hadapan Rabbul ‘Alamin untuk  mempertanggungjawabkan perbuatannya selama hidup di dunia.<br />
<span>فَوَرَبِّكَ لَنَسْأَلَنَّهُمْ  أَجْمَعِينَ.عَمَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ</span><br />
&#8220;Maka demi Rabbmu! Kami  sungguh-sungguh akan menanyakan kepada mereka seluruhnya, tentang apa  yang dulunya mereka amalkan.&#8221; (Al-Hijr: 92-93)<br />
Sungguh, tidak ada  satu pun yang tersembunyi dari Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala. Tidak ada  seorang pun yang dapat mengingkari ataupun menutupi apa yang dahulunya  ia perbuat, karena anggota tubuhnya menjadi saksi.<br />
<span>فَيُخْتَمُ عَلَى فِيْهِ وَيُقَالُ لِفَخِذِهِ  وَلَحْمِهِ وَعِظَامِهِ: انْطِقِيْ. فَتَنْطِقُ فَخِذُهُ وَلَحْمُهُ  وَعِظَامُهُ بِعَمَلِهِ</span>&#8230;<br />
&#8220;Maka ditutuplah mulutnya dan  dikatakan kepada pahanya, dagingnya dan tulangnya, ‘Berbicaralah!’ Lalu  berbicaralah pahanya, daging dan tulangnya mengabarkan tentang amalannya  (ketika di dunia)….&#8221; (HR. Muslim)<br />
Sahabat Rasul yang bernama ‘Adi  bin Hatim radhiyallahu &#8216;anhu mengabarkan sabda Rasulullah Shallallahu  &#8216;alaihi wa sallam:<br />
<span>مَا مِنْكُمْ  مِنْ أَحَدٍ إِلاَّ سَيُكَلِّمُهُ رَبُّهُ لَيْسَ بَيْنَهُ وَبَيْنَهُ  تَرْجُمَانُ، فَيَنْظُرُ أَيْمَنَ مِنْهُ فَلاَ يَرَى إِلاَّ مَا قَدَّمَ  مِنْ عَمَلِهِ، وَيَنْظُرُ أَشْأَمَ مِنْهُ فَلاَ يَرَى إِلاَّ مَا  قَدَّمَ، وَيَنْظُرُ بَيْنَ يَدَيْهِ فَلاَ يَرَى إِلاَّ النَّارَ  تِلْقَاءَ وَجْهِهِ، فَاتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ</span><br />
&#8220;Tidak  ada seorang pun dari kalian kecuali nanti akan diajak bicara oleh  Rabbnya, tanpa ada seorang penerjemah antara dia dengan Rabbnya. Lalu ia  memandang ke arah kanannya namun ia tidak melihat kecuali amal yang  telah dilakukannya. Ia juga memandang ke arah kirinya, namun ia tidak  melihat kecuali amal yang telah dilakukannya. Dan ia memandang ke  depannya, namun ia tidak melihat kecuali neraka di hadapan wajahnya.  Maka jagalah diri kalian dari neraka walaupun dengan bersedekah sepotong  belahan kurma.&#8221; (HR. Al-Bukhari dan Muslim)<br />
Saudariku, termasuk yang  menambah kengerian pada hari itu adalah sangat panjangnya hari  tersebut. Sebagaimana berita dari Dzat yang Maha Benar pengabaran-Nya:<br />
<span>سَأَلَ سَائِلٌ بِعَذَابٍ وَاقِعٍ.  لِلْكَافِرينَ لَيْسَ لَهُ دَافِعٌ. مِنَ اللَّهِ ذِي الْمَعَارِجِ.  تَعْرُجُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ إِلَيْهِ فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ  خَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ</span><br />
&#8220;Seseorang telah meminta  disegerakannya azab yang pasti terjadi, bagi orang-orang kafir, yang  tidak ada seorang pun dapat menolaknya. (Yang datang) dari Allah, Yang  mempunyai tempat-tempat naik. Malaikat-malaikat dan Jibril naik  menghadap kepada-Nya dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun1.&#8221;  (Al-Ma’arij: 1-4)<br />
Karenanya, hendaklah kita memikirkan kengerian hari  tersebut dan kita harus ingat bahwa keselamatan dari kengeriannya  hanyalah didapatkan dengan rahmat Allah, kemudian dengan amalan shalih.<br />
Hari  itu semua manusia akan menyesal. Bila ia seorang yang berbuat baik, ia  akan menyesal kenapa ia tidak menambah dan memperbanyak kebaikannya.  Bila ia seorang yang berbuat jelek, ia akan menyesal kenapa dahulu  menyia-nyiakan umurnya dari melakukan amal shalih.<br />
Ingatlah, saat  catatan amal beterbangan pada hari tersebut dalam keadaan seseorang  tidak tahu apakah ia akan menerima catatannya dengan tangan kanan  sehingga ia beroleh kebahagiaan nan abadi, ataukah ia akan menerimanya  dengan tangan kiri sehingga ia akan celaka.<br />
<span>فَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ فَيَقُولُ  هَاؤُمُ اقْرَءُوا كِتَابِيَهْ. إِنِّي ظَنَنْتُ أَنِّي مُلَاقٍ  حِسَابِيَهْ. فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَاضِيَةٍ. فِي جَنَّةٍ عَالِيَةٍ.  قُطُوفُهَا دَانِيَةٌ. كُلُوا وَاشْرَبُوا هَنِيئًا بِمَا أَسْلَفْتُمْ فِي  الْأَيَّامِ الْخَالِيَةِ. وَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِشِمَالِهِ  فَيَقُولُ يَالَيْتَنِي لَمْ أُوتَ كِتَابِيَهْ. وَلَمْ أَدْرِ مَا  حِسَابِيَهْ. يَالَيْتَهَا كَانَتِ الْقَاضِيَةَ. مَا أَغْنَى عَنِّي  مَالِيَهْ. هَلَكَ عَنِّي سُلْطَانِيَهْ. خُذُوهُ فَغُلُّوهُ. ثُمَّ  الْجَحِيمَ صَلُّوهُ. ثُمَّ فِي سِلْسِلَةٍ ذَرْعُهَا سَبْعُونَ ذِرَاعًا  فَاسْلُكُوهُ. إِنَّهُ كَانَ لَا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ الْعَظِيمِ. وَلَا  يَحُضُّ عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِينِ. فَلَيْسَ لَهُ الْيَوْمَ هَاهُنَا  حَمِيمٌ. وَلَا طَعَامٌ إِلَّا مِنْ غِسْلِينٍ. لَا يَأْكُلُهُ إِلَّا  الْخَاطِئُونَ</span><br />
&#8220;Adapun orang-orang yang diberikan kepadanya  catatan amaalnya dari sebelah kanannya, maka dia berkata, ‘Ambilllah,  bacalah catatan amalku ini. Sungguh aku yakin bahwa aku akan menemui  hisab terhadap amalku.’ Maka orang itu berada dalam kehidupan yang  diridhai, dalam surga yang tinggi. Buah-buahannya dekat. (Kepada mereka  dikatakan), ‘Makan dan minumlah dengan sedap sebagai balasan amalan yang  telah kalian kerjakan pada hari-hari yang telah lalu.’ Adapun orang  yang diberikan kepadanya catatan amalnya dari sebelah kirinya, maka dia  berkata, ‘Wahai, alangkah baiknya bila sekiranya tidak diberikan  kepadaku catatan amalku ini. Dan aku tidak mengetahui apa hisab terhadap  diriku. Wahai kiranya kematian itulah yang menyelesaikan segala  sesuatu. Hartaku sekali-kali tidak memberikan manfaat kepadaku. Telah  hilang kekuasaan dariku.’ (Allah berfirman), &#8220;Peganglah dia, lalu  belenggulah tangannya ke lehernya. Kemudian masukkan dia ke dalam api  neraka yang menyala-nyala. Kemudian belitlah dia dengan rantai yang  panjangnya tujuh puluh hasta.’ Sesungguhnya dulu dia tidak beriman  kepada Allah Yang Maha Agung. Dan juga tidak mendorong orang lain untuk  memberi makan orang miskin. Maka tiada seorang pun teman baginya pada  hari ini di sini. Dan tiada pula makanan sedikit pun baginya kecuali  berupa darah dan nanah. Tidak ada yang memakannya kecuali orang-orang  yang berdosa.&#8221; (Al-Haqqah: 19-37)<br />
Ingatlah saudariku, wahai  hamba-hamba Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala, dengan shirath (titian) yang  licin lagi menggelincirkan yang diletakkan di atas punggung Jahannam.  Manusia melewatinya sesuai kadar amalannya. Ada yang melewatinya dengan  sangat cepat, ada yang lambat perlahan, ada yang merangkak, dan ada yang  tersungkur ke dalam api yang menyala-nyala. Kita tak tahu apakah kita  termasuk yang selamat melewatinya, ataukah na’udzubillah terperosok ke  dalam jurang Jahannam. Kita mohon kepada Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala  keselamatan!<br />
Ingatlah semua ini wahai saudariku! Yakinlah karena ini  bukanlah khayalan, sekadar isapan jempol dan dongeng pengantar tidur.  Semua yang disebutkan di sini sungguh benar adanya dan pasti datangnya.  Perkara-perkara ini dekat, walaupun terasa kehidupan kita panjang.<br />
Apa  yang kita persiapkan untuk hari tersebut? Iya, amal shalih…. Dengannya  setelah rahmat Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala, kita akan selamat dan termasuk  orang-orang yang berbahagia. Menjadi penghuni surga yang seluas langit  dan bumi.<br />
Ya Allah, ya Arhamar Rahimin, ya Karim! Selamatkanlah kami  dari siksa-Mu dan jadikanlah kami termasuk orang-orang yang beruntung  dapat mendiami surga-Mu, negeri kemuliaan-Mu. Amin.<br />
Wallahu ta’ala  a’lam bish-shawab.</p>
<p>1 Yang dimaksud adalah hari kiamat menurut  salah satu dari empat pendapat yang disebutkan oleh Al-Hafizh Ibnu  Katsir rahimahullahu dalam Tafsirnya (8/174).</p>
<p>http://www.asysyariah.com/print.php?id_online=738</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mimbarsunnah.org/berita-tentang-hari-kiamat/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Awas Bahaya Syirik</title>
		<link>http://mimbarsunnah.org/awas-bahaya-syirik</link>
		<comments>http://mimbarsunnah.org/awas-bahaya-syirik#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Jun 2010 14:21:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mimbarsunnah</dc:creator>
				<category><![CDATA[aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[syirik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost/wordpress/?p=724</guid>
		<description><![CDATA[Kesyirikan telah menyebar dimana-dimana bagaikan jamur  di musim hujan, mulai dari desa sampai ke kota. Kesyirikan merebak di  sekitar kita dengan macam dan sampul yang berbeda. Namun hakikatnya  adalah satu, yaitu mempersekutukan Allah dalam ibadah, dan  ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kesyirikan telah menyebar dimana-dimana bagaikan jamur  di musim hujan, mulai dari desa sampai ke kota. Kesyirikan merebak di  sekitar kita dengan macam dan sampul yang berbeda. Namun hakikatnya  adalah satu, yaitu mempersekutukan Allah dalam ibadah, dan  rububiyah-Nya. Mulai dari praktek ngalap (mencari) berkah dari pohon,  benda-benda &#8220;bertuah&#8221;, keris, mencari rejeki dari jin di Gunung Lawu,  mendatangi dukun (seperti, Ponari), penampakan makhluk halus,  menggunakan jimat atau rajah-rajah, percaya kepada tathoyyur (primbon),  praktek horoskop (ramal nasib), pengajaran ilmu kekebalan atau  kebatinan, istighotsah akbar (meminta pertolongan di kala susah) kepada  Syaikh Abdul Qadir Jailaniy, sembelih hewan untuk Nyi Roro Kidul, lempar  sesajen ke lautan, potong sapi untuk mayit di kala kematian, dan  sederet bentuk kesyirikan lainnya.</p>
<p>Tragisnya lagi,  kesyirikan-kesyirikan seperti ini semakin laris dan tersebar di kalangan  orang-orang jahil di kalangan kaum muslimin, akibat bantuan perusahaan  pertelevisian dan media massa lainnya demi meraup dan menjarah keutamaan  sebesar-besarnya, walapun harus merusak aqidah dan iman umat. Semua ini  akan dipertanggungjawabkan oleh para pemilik perusahaan tersebut jika  mereka tak segera bertaubat kepada Allah -Azza wa Jalla-. Demi Allah,  merusak AQIDAH dan IMAN orang bukanlah perkara ringan; mereka harus  pertanggungjawabkan di Padang Mahsyar!!!</p>
<p>Orang yang  mempersekutukan Allah dengan makhluk dalam hal beribadah, dengan artian  selain ia beribadah –seperti, berdoa, dan meminta- kepada Allah Allah,  maka si musyrik juga beribadah kepada selain Allah. Jika ia tetap  musyrik, lalu ia mati di atas syirik, maka dosa syiriknya tak akan  diampuni oleh Allah -Azza wa Jalla-.</p>
<p>Allah -Azza wa Jalla-  berfirman,</p>
<p>&#8220;Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa  mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan dia mengampuni dosa yang  selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. barangsiapa yang  mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah  tersesat sejauh-jauhnya&#8221;. (QS. An-Nisaa’: 116).</p>
<p>Ahli Tafsir  Negeri Yaman, Muhammad bin Ali Asy-Syaukaniy-rahimahullah- berkata  Fathul Qodir (1/717), &#8220;Tak ada khilaf di antara kaum muslimin bahwa  seorang yang berbuat syirik, jika ia mati di atas kesyirikan, maka ia  bukanlah termasuk orang berhak mendapatkan ampunan yang Allah anugrahkan  kepada orang yang tidak berbuat syirik sebagaimana yang dituntut oleh  kehendak-Nya&#8221;.</p>
<p>Ayat ini menunjukkan betapa besarnya dosa syirik  ini, hingga Allah -Ta’ala- tidak mau mengampuninya. Padahal Allah  -Ta’ala- memiliki ampunan yang sangat luas, rahmat dan kasih sayang yang  paling sempurna; amat mencintai hamba-hamba-Nya, melebihi cintanya  seorang hamba kepada dirinya sendir!! Sekalipun demikian, Allah -Ta’ala-  tidak akan mengampuni dosa pelaku kesyirikan. Kenapa? Karena mereka  telah berbuat zholim kepada Allah. Mereka tinggal di bumi Allah, mereka  makan dari rizki Allah; mereka hidup dengan nikmat-nikmat Allah; Semua  fasilitas-fasilitas yang mereka butuhkan, semua itu datangnya dari sisi  Allah. Namun mereka tidak mau beribadah hanya kepada Allah -Ta’ala-  semata. Mereka justru beribadah, bersyukur dan meminta kepada makhluk  yang tidak memiliki menciptakan apapun, walaupun hanya seekor lalat.</p>
<p>Fenomena  syirik yang merebak di sekitar kita, memaksa dan mengharuskan kita  untuk takut kepada kesyirikan dengan segala bentuknya. Apalagi terkadang  syirik dipoles dengan teknologi, dilindungi oleh sebagian orang-orang  yang lahiriahnya &#8220;baik&#8221; dengan dalih &#8220;budaya&#8221;. Memang budaya, tapi  budaya syirik yang diharamkan dalam agama Islam!! Bahkan di sebagian  tempat, kesyirikan dilariskan oleh para kiyai pesantren sehingga  masyarakat banyak yang tertipu. Sebab mereka menganggap bahwa jika suatu  perbuatan dilakukan oleh sang kiyai, maka tak mungkin salah. Padahal  tidaklah demikian halnya; Sang kiyai bukan nabi yang ma’shum (terjaga)  dari kesalahan dan kekeliruan. Sangkaan mereka terhadap sang kiyai ini  adalah perangkap setan.</p>
<p>Tersebarnya syubhat, dan  perangkap-perangkap setan di sekeliling kita dalam usaha menyesatkan  kita dari tauhidullah (mengesakan Allah) adalah suatu perkara yang  membuat kita perlu super hati-hati dalam menjaga tauhid kita; kita harus  takut jangan sampai TAUHID kita hilang, berganti SYIRIK. Oleh karena  itu, Ibrahim pernah berdo’a kepada Allah -Azza wa Jalla- agar  diselamatkan dari menyembah dan mengibadahi selain-Nya,</p>
<p>&#8220;Dan  (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: &#8220;Ya Tuhanku, jadikanlah negeri Ini  (Makkah), negeri yang aman, dan jauhkanlah Aku beserta anak cucuku dari  menyembah berhala-berhala&#8221;. (QS. Ibrahim : 35).</p>
<p>Al-Qodhi Sulaiman  bin Abdillah At-Tamimiy-rahimahullah- berkata, &#8220;Ibrahim takut kepada  kesyirikan dan beliau berdo’a kepada Allah agar beliau dan anak cucunya  diselamatkan dari beribadah kepada berhala. Jika Ibrahim saja memohon  agar ia dan anak cucunya dijauhkan dari menyembah BERHALA (yaitu, segala  sesuatu yang disembah dari selain Allah), maka bagaimana kira-kira  persangkaanmu dengan orang selain beliau? Sebagaimana kata Ibrahim  At-Taimi, &#8220;Siapakah yang merasa lebih aman dari bala’ (yakni, syirik)  daripada Ibrahim?&#8221; [HR. Ibnu Jarir, dan Ibnu Abi Hatim]. Ini  mengharuskan hati yang hidup untuk takut kepada kesyirikan. Bukan  seperti yang dikatakan sebagian orang-orang jahil bahwa syirik tak akan  terjadi pada umat ini. Karenanya mereka merasa aman dari syirik.  Akhirnya, mereka pun terjerumus ke dalam syirik&#8221;. [Lihat Taisir Al-Aziz  Al-Hamid (hal. 92), tahqiq Muhammad Aiman Asy-Syabrowiy, cet. Alam  Al-Kutub, 1419 H]</p>
<p>Betapa celakanya jika ada orang yang diharamkan  untuk merasakan kenikmatan dan keindahan surga. Itulah pelaku  kesyirikan; Allah haramkan surga bagi mereka sebagai adzab (siksa) yang  paling menghinakan disebabkan ke-syirik-an mereka. Allah berfirman,</p>
<p>&#8220;Sesungguhnya  orang yang mempersekutukan Allah, maka pasti Allah akan mengharamkan  baginya surga dan tempat kembalinya ialah neraka tidalah ada bagi  orang-orang yang dholim itu seorang penolong pun&#8221;. (QS.Al-Maidah :72 ).</p>
<p>Al-Allamah  Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah-rahimahullah- berkata dalam Al-Jawab Al-Kafiy  (hal.89), &#8220;Tatkala kesyirikan kepada Allah meniadakan maksud  (penciptaan) ini, maka syirik menjadi dosa besar yang paling besar  secara mutlak. Allah telah mengharamkan surga bagi setiap pelaku syirik;  Dia halalkan darah, harta, dan keluarganya bagi orang yang bertauhid;  Allah halalkan orang bertauhid menjadikan mereka sebagai budaknya,  karena mereka tidak melaksanakan tugas peribadahan kepada Allah. Allah  –Subhanahu- enggan untuk menerima amalan seorang yang berbuat syirik;  enggan menerima syafa’at atau menerima do’a mereka di akhirat; enggan  menerima ma’af mereka&#8221;.</p>
<p>Allah -Ta’ala- telah menghikayatkan di  dalam Al-Qur’an tentang orang-orang yang diharamkan untuk merasakan  kenikmatan di dalam surga</p>
<p>&#8220;Dan penduduk neraka memanggil penduduk  surga, tuangkanlah air kepada kami atau dari apa-apa yang Allah telah  rezkikan kepada kalian. Penduduk surga berkata: &#8220;Sesungguhnya Allah  telah mengharamkan keduanya bagi orang-orang yang kafir&#8221; .((QS.Al-A’raf  :50 ).</p>
<p>Mengingat sedemikian gawatnya masalah syirik, maka kita  berharap mudah-mudahan Allah berkenan melindungi kita dari perbuatan  syirik, baik yang nampak maupun yang tersembunyi, dan mematikan kita di  atas tauhid.</p>
<p>SYIRIK inilah yang pernah ditakutkan oleh Nabi kita,  Muhammad -Shollallahu ‘alaihi wasallam- menimpa umatnya. Beliau  khawatir jika umatnya tertimpa syirik kecil, bagaimana lagi jika yang  menimpa mereka adalah syirik besar yang merupakan kekafiran, bisa  mengeluarkan manusia dari Islam. Karenanya, beliau -Shollallahu ‘alaihi  wasallam- bersabda,</p>
<p>إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ  الشِّرْكُ اْلأَصْغَرُ, قَالُوْا: وَمَا الشِّرْكُ اْلأَصْغَرُ يَا  رَسُوْلَ اللهِ, قَالَ: الرِّيَاءُ, يَقُوْلُ اللهُ -عَزَّ وَجَلَّ- لَهُمْ  يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِذَا جَزَى النَّاسَ بِأَعْمَالِهِمْ: اِذْهَبُوْا  إِلَى الَّذِيْنَ كُنْتُمْ تُرَاؤُوْنَ فِي الدُّنْيَا, فَانْظُرُوْا هَلْ  تَجِدُوْنَ عِنْدَهُمْ جَزَاءً</p>
<p>&#8220;Sesungguhnya sesuatu yang paling  aku takutkan atas diri kalian adalah syirik ashghor (kecil)&#8221;. Mereka  (Para sahabat) berkata, &#8220;Apa itu syirik kecil, wahai Rasulullah?&#8221; Beliau  bersabda, &#8220;Riya’ (ingin diperhatikan saat beramal). Allah -Azza wa  Jalla- berfirman di hari kiamat saat Allah memberikan balasan kepada  manusia berdasarkan amalan-amalan mereka, “Pergilah kalian kepada  orang-orang yang kalian berbuat riya’ (di depannya) ketika di dunia;  perhatikanlah, apakah kalian mendapatkan pada mereka balasan”. [HR.  Ahmad (5/428-429). Di-hasan-kan oleh Al-Arna'uth dalam Takhrij Al-Musnad  (no. 23680, 23681, &amp; 23686)]</p>
<p>Jika syirik kecil saja  dikhawatirkan oleh Nabi -Sholllallahu alaihi wa sallam- berupa riya’  (beribadah karena mencari perhatian), maka tentunya syirik besar lebih  beliau takutkan, seperti berdoa kepada penghuni kubur atau kepada jin.  Karenanya beliau bersabda,</p>
<p>مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَدْعُوْ مِنْ دُوْنِ  اللهِ نِدًّا دَخَلَ النَّارَ</p>
<p>“Barangsiapa yang meninggal, sedang  ia menyeru (berdoa) kepada sembahan selain Allah, maka ia akan masuk  neraka ”. [HR. Al-Bukhoriy (4227)]</p>
<p>Berdo’a kepada selain Allah,  memohon kesembuhan dan berkah kepada selain Allah merupakan syirik besar  yang banyak menimpa manusia di zaman ini. Lihatlah segerombol manusia  yang mendatangi Dukun Cilik, PONARI. Mereka semua datang meminta  kesembuhan dari PONARI dari segala macam penyakit; seakan-akan PONARI  adalah tuhan selain Allah yang dapat menyembuhkan segala penyakit.  Ketahuilah, hanya Allah yang menyembuhkan semua penyakit, bukan makhluk.  Karenanya, mintalah dan harap kesembuhan itu dari Allah -Azza wa  Jalla-. Janganlah kalian meminta dan mengharap kesembuhan dan berkah  dari Ponari !! Sebab itu adalah kesyirikan yang terlarang dalam agama  kita !!! Barangsiapa yang meninggal dalam keadaan syrik, maka ia akan  masuk neraka dalam keadaan kekal di dalamnya. Na’udzu billahi min  dzalik.</p>
<p>Nabi -Sholllallahu alaihi wa sallam- bersabda,</p>
<p>مَنْ  مَاتَ يُشْرِكُ بِاللهِ شَيْئًا دَخَلَ النَّارَ</p>
<p>“Barangsiapa yang  mati dalam keadaan berbuat syirik (mempersekutukan Allah) dengan  sesuatu apapun, maka ia akan masuk neraka”. [HR. Al-Bukhoriy (1181)]</p>
<p>Inilah  kondisi orang yang musyrik yang mempersekutukan Allah -Ta’ala- dengan  makhluk-Nya; ia tak akan masuk surga, bahkan masuk neraka!!</p>
<p>Seorang  ulama Syafi’iyyah , Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqolaniy -rahimahullah-  berkata saat mengomentari hadits di atas, “Sesungguhnya orang-orang yang  tidak bertauhid (alias musyrik) tidak akan masuk surga”. [Lihat Fathul  Bari (3/111)]</p>
<p>Wahai Pembaca yang budiman, hindarilah dan  waspadailah syirik karena ia adalah penyebab yang menjerumuskan kalian  ke dalam neraka.</p>
<p>Jabir -radhiyallahu ‘anhu- berkata, “Ada seorang  laki-laki yang pernah datang kepada Nabi -Sholllallahu alaihi wa  sallam- seraya berkata, “Wahai Rasulullah, apakah dua penyebab itu  (yakni, penyebab masuk surga, dan penyebab masuk neraka)?” Beliau  bersabda,</p>
<p>مَنْ مَاتَ لاَ يُشْرِكُ بِاللهِ شَيْئاً دَخَلَ  الْجَنَّةَ وَمَنْ مَاتَ يُشْرِكُ بِاللهِ شَيْئاً دَخَلَ النَّارَ</p>
<p>“Barangsiapa  yang mati dalam keadaan tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu  apapun, maka ia akan masuk surga; barangsiapa yang meninggal dalam dalam  keadaan mempersekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka ia akan masuk  neraka”. [HR. Muslim (93)]</p>
<p>Hadits ini adalah ancaman yang amat  keras bagi orang-orang yang melakukan kesyirikan; ia diancam dengan  neraka, dan akan masuk surga lagi. Kita memohon kepada Allah sebagaimana  doa Ibrahim, &#8220;Ya Tuhanku, jadikanlah negeri Ini (Makkah), negeri yang  aman, dan jauhkanlah Aku beserta anak cucuku dari menyembah  berhala-berhala&#8221;.</p>
<p>Sumber : Buletin Jum’at At-Tauhid edisi 105  Tahun II. Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas. Alamat : Pesantren Tanwirus  Sunnah, Jl. Bonto Te’ne No. 58, Kel. Borong Loe, Kec. Bonto Marannu,  Gowa-Sulsel. HP : 08124173512 (a/n Ust. Abu Fa’izah). Pimpinan  Redaksi/Penanggung Jawab : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc.  Dewan Redaksi : Santri Ma’had Tanwirus Sunnah – Gowa. Editor/Pengasuh :  Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Layout : Abu Dzikro. Untuk  berlangganan/pemesanan hubungi : Ilham Al-Atsary (085255974201). (infaq  Rp. 200,-/exp)</p>
<p>http://almakassari.com/artikel-islam/aqidah/awas-bahaya-syirik.html</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mimbarsunnah.org/awas-bahaya-syirik/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keistimewaan Orang Bertauhid</title>
		<link>http://mimbarsunnah.org/keistimewaan-orang-bertauhid</link>
		<comments>http://mimbarsunnah.org/keistimewaan-orang-bertauhid#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Jun 2010 14:14:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mimbarsunnah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian Utama]]></category>
		<category><![CDATA[aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost/wordpress/?p=721</guid>
		<description><![CDATA[Tauhid adalah inti agama para nabi dan rasul. Mereka  mengajak kepada tauhid dan merealisasikannya pada diri mereka sendiri  dan pengikutnya. Seorang yang mewujudkan tauhid dan merealisasikannya  dalam keyakinan dan perbuatannya adalah orang yang mendapatkan kedudukan  istimewa ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tauhid adalah inti agama para nabi dan rasul. Mereka  mengajak kepada tauhid dan merealisasikannya pada diri mereka sendiri  dan pengikutnya. Seorang yang mewujudkan tauhid dan merealisasikannya  dalam keyakinan dan perbuatannya adalah orang yang mendapatkan kedudukan  istimewa di sisi Allah Robbul alamin.</p>
<p>Pembaca yang budiman,  mungkin anda bertanya, &#8220;Bagaimana cara merealisasikan dan mewujudkan  tauhid pada diri seseorang?!&#8221;Tentunya dengan membersihkan dan  menyucikannya dari segala noda-noda syirik dan bid’ah, dan tidak  terus-menerus melakukan maksiat. Barangsiapa yang demikian kondisinya,  maka ia telah merealisasikan tauhid. [Lihat Qurroh Uyun Al-Muwahhidin  (hal. 23) karya Syaikh Abdur Rahman bin Hasan Alusy Syaikh, cet. Dar  Ash-Shumai'iy, 1420 H]</p>
<p>Jadi, seorang yang bertauhid haruslah  memberikan ibadahnya kepada Allah -Ta’ala- saja, bukan untuk selain-Nya.  Jika ia berdo’a dan memohon, maka ia tak berdo’a dan memohon, kecuali  kepada Allah. Jika ia mengharap dan takut, maka ia tak mengharap dan  takut, kecuali kepada Allah. Dia tak akan takut atau mengharap kepada  makhluk, walau makhluk itu memiliki kehebatan dan keistimewaan apapun.  Dia tak akan takut kepada jin-jin, roh-roh, kuntilanak, gondoruwo, wewe  gombel, setan, kuburan dan makhluk halus; atau apapun diantara makhluk  yang ditakuti oleh sebagian orang-orang jahil. Bahkan ia hanya takut  kepada Allah, Pencipta mereka sehingga mereka hanya mengharap karunia,  dan rahmat-Nya.</p>
<p>Selain itu , seorang yang ingin merealisasikan  dan menyempurnakan tauhidnya, ia harus meninggalkan bid’ah  (ajaran-ajaran yang tak ada contohnya dalam agama, walaupun dianggap  baik oleh sebagian orang). Contoh bid’ah: perayaan tahun baru hijriyyah  atau masehi, perayaan maulid Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-,  perayaan Isra’-Mi’raj, peringatan Nuzulul Qur’an, dan lainnya. Jadi,  seorang harus meninggalkan bid’ah-bid’ah semacam ini, karena bid’ah akan  membuat tauhid kita akan keruh dan ternodai. Orang yang melakukan  bid’ah telah keluar dari tuntunan syari’at Allah -Ta’ala- yang telah  Allah wahyukan kepada Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-; pelaku  bid’ah tidaklah taat kepada Allah secara murni. Andai ia meyakini Allah  sebagai Robb dan ilah-nya (sembahannya), maka ia akan taat dan tak  keluar dari tuntunan-Nya. [Lihat Al-Qoul As-Sadid Syarh Kitab At-Tauhid  (hal. 24) karya Syaikh Abdur Rahman Ibn Nashir As-Sa'diy, cet. Wuzaroh  Asy-Syu'un Al-Islamiyyah, 1421 H]</p>
<p>Realisasi tauhid akan semakin  sempurna, jika seseorang menanggalkan dan menjauhi maksiat, seperti  dusta, ingkar janji, pacaran, korupsi, zina, musik, minum khomer dan  lainnya. Sebab ini adalah tanda bahwa hatinya memurnikan ketaatannya  kepada Sang Pencipta dan Sembahannya, yakni Allah -Azza wa Jalla-[Lihat  At-Tamhid li Syarh Kitab At-Tauhid (hal. 34), karya Syaikh Sholih bin  Abdul Aziz Alusy Syaikh, cet. Dar At-Tauhid, 1423 H]</p>
<p>Perealisasian  dan penerapan tauhid yang murni dan bersih dari syirik amatlah susah  kita temukan di tengah kebanyakan manusia pada hari ini, kecuali orang  yang diberi petunjuk untuk menapaki jalan para nabi dan rasul yang  berlandaskan tauhid. Orang yang mengaku bertauhid banyak, tapi realita  mengingkarinya.</p>
<p>Pembaca yang budiman, kalau hati kalian  penasaran, maka layangkan pandangan kalian kepada ayat dan hadits  berikut, niscaya kalian akan memahami makna tauhid dan cara  merealisasikannya.</p>
<p>Allah -Ta’ala- berfirman,</p>
<p>&#8220;Sesungguhnya  Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh  kepada Allah dan HANIF. dan sekali-kali bukanlah dia termasuk  orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan),</p>
<p>(lagi) yang mensyukuri  nikmat-nikmat Allah. Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada  jalan yang lurus&#8221;. (QS. An-Nahl : 120-121).</p>
<p>SyaikhMuhammad Ibn  Sholih Al-Utsaimin-rahimahullah- berkata, &#8220;Orang yang HANIF adalah orang  yang menghindar dari kesyirikan, menjauhi segala perkara yang  menyelisihi ketaatan&#8221;. [Lihat Al-Qoul Al-Mufid (1/93), cet. Dar Ibn  Al-Jauziy, 1421 H]</p>
<p>Barangsiapa yang mau merealisasikan tauhid  secara sempurna sehingga ia mendapatkan pujian dari Allah sebagaimana  yang dialami Ibrahim -Shollallahu ‘alaihi wasallam-, maka seorang harus  memiliki 4 sifat yang ada pada Nabi Ibrahim :</p>
<p>* Sifat  Keteladanan dan Kepemimpinan<br />
* Sifat Selalu Patuh kepada Allah  -Azza wa Jalla-<br />
* Sifat Hanif : menjauhi kesyirikan.<br />
*  Sifat Syukur terhadap nikmat lahir dan batin.</p>
<p>Inilah empat sifat  yang harus dimiliki oleh seorang yang ingin merealisasikan tauhidnya  dengan sempurna. Keempat sifat ini tak akan terwujud kecuali jika  dibarengi dengan ilmu dan konsekuensinya berupa keyakinan terhadap  sesuatu yang kita ilmui, dan tunduk kepadanya. [Lihat Fathul Majid (hal.  75-76) karya Syaikh Abdur Rahman bin Hasan At-Tamimiy, cet. Dar  Al-Fikr, 1412 H, dan Al-Qoul Al-Mufid (1/91) karya Al-Utsaimin]</p>
<p>Al-Imam  Abu Bakr Ibn Qoyyim Al-Jauziyyah-rahimahullah- berkata menjelaskan  maksud Allah menyebutkan empat sifat itu, &#8220;Maksudnya, Allah -Subhanahu-  memuji kekasih-Nya (yakni, Ibrahim) dengan empat sifat ini. Empat sifat  ini kembali kepada ilmu, pengamalan konsekuensi ilmu tersebut,  mengajarkannya, dan menyebarkannya. Jadi, semua kesempurnaan itu kembali  kepada ilmu dan pengamalan konsekuensinya, serta mendakwahi makhluk  menuju kepada ilmu itu&#8221;. [Lihat Miftah Dar As-Sa'adah (1/174)]</p>
<p>Jadi,  seorang yang mau merealisasikan tauhid secara total dan murni, maka ia  harus mengetahui dan mengilmui bahwa dirinya harus menjauhi kesyirikan.  Oleh karena itu, Allah -Ta’ala- berfirman,</p>
<p>&#8220;Dan orang-orang yang  tidak mempersekutukan dengan Tuhan mereka (sesuatu apapun)&#8221;. (QS.  Al-Mukminun : 59).</p>
<p>Maksiat –menurut makna umumnya- adalah syirik,  karena maksiat timbul dari hawa nafsu yang menyelisihi syari’at. Tak  heran jika Allah berfirman,</p>
<p>&#8220;Maka pernahkah kamu melihat orang  yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya&#8221;. (QS. Al-Jatsiyah: 23).</p>
<p>Syaikh  Al-Utsaimin berkata saat menafsiri ayat 59 dari Surah Al-Mukminun,  &#8220;Yang dimaksud dengan SYIRIK adalah syirik dalam artian yang lebih umum,  sebab perealisasian tauhid tak akan terjadi, kecuali dengan jalan  menjauhi syirik –menurut artiannya yang lebih umum-. Tapi bukanlah  maksudnya, seseorang (yang merealisasikan tauhid) tak akan muncul  darinya kemaksiatan, sebab setiap anak cucu Adam adalah orang-orang yang  pernah bersalah, tak ma’shum. Namun jika mereka bermaksiat, maka mereka  segera bertaubat, dan tidak terus-menerus di atas maksiat&#8221;. [Lihat  Al-Qoul Al-Mufid (1/96)]</p>
<p>Seorang yang merealisasikan tauhid  dengan hati dan raganya akan selalu menjauhi maksiat. Kalaupun ia  terjatuh dalam maksiat, maka ia akan segera sadar dan siuman dari  kelalaiannya seraya mengingat bahwa ia tak diciptakan untuk mendurhakai  Allah, tapi ia diciptakan untuk taat kepada Allah -Azza wa Jalla-.  Merekalah yang Allah singgung dalam firman-Nya,</p>
<p>&#8220;Dan (juga)  orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri  sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa  mereka ; dan tak ada yang dapat mengampuni dosa selain Allah. Dan  mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka  mengetahui&#8221;. (QS. Ali Imran : 135).</p>
<p>Karena jauh dari kesyirikan,  seorang yang merealisasikan tauhidnya dengan murni akan selalu  tergantung hatinya kepada Allah, ia selalu bertawakkal kepada-Nya  sehingga ia diberi keutamaan oleh Allah -Ta’ala- untuk masuk dalam  golongan 70 ribu orang yang masuk surga tanpa hisab (perhitungan), dan  siksaan. Inilah yang disebutkan oleh Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa  sallam- dalam hadits ini,</p>
<p>عُرِضَتْ عَلَيَّ اْلأُمَمُ, فَرَأَيْتُ  النَّبِيَّ وَمَعَهُ الرُّهَيْطُ, وَالنَّبِيَّ وَمَعَهُ الرَّجُلُ  وَالرَّجُلاَنِ وَالنَّبِيَّ لَيْسَ مَعَهُ أَحَدٌ إِذْ رُفِعَ لِيْ  سَوَادٌ عَظِيْمٌ فَظَنَنْتُ أَنَّهُمْ أُمَّتِيْ, فَقِيْلَ لِيْ هَذَا  مُوْسَى صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَوْمُهُ, وَلَكِنِ انْظُرْ  إِلَى اْلأُفُقِ, فَنَظَرْتُ فَإِذَا سَوَادٌ عَظِيْمٌ, فَقِيْلَ لِيَ  انْظُرْ إِلَى اْلأُفُقِ اْلآخَرِ, فَإِذَا سَوَادٌ عَظِيْمٌ, فَقِيْلَ  لِيْ هَذِهِ أُمَّتُكَ وَمَعَهُمْ سَبْعُوْنَ أَلْفًا يَدْخُلُوْنَ  الْجَنَّةَ بِغَيْرِ حِسَابٍ وَلاَ عَذَابٍ, ثُمَّ نَهَضَ فَدَخَلَ  مَنْزِلَهُ فَخَاضَ النَّاسُ فِيْ أُولَئِكَ الَّذِيْنَ يَدْخُلُوْنَ  الْجَنَّةَ بِغَيْرِ حِسَابٍ وَلاَ عَذَابٍ, فَقَالَ بَعْضُهُمْ:  فَلَعَلَّهُمُ الَّذِيْنَ صَحِبُوْا رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ  وَسَلَّمَ, وَقَالَ بَعْضُهُمْ: فَلَعَلَّهُمْ الَّذِيْنَ وُلِدُوْا فِي  اْلإِسْلاَمِ وَلَمْ يُشْرِكُوْا بِاللهِ وَذَكَرُوْا أَشْيَاءً, فَخَرَجَ  عَلَيْهِمْ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, فَقَالَ: مَا  الَّذِيْ تَخُوْضُوْنَ فِيْهِ؟ فَأَخْبَرُوْهُ, فَقَالَ:ُ هُمُ الَّذِيْنَ  لاَ يَتَطَيَّرُوْنَ وَلاَ يَسْتَرْقُوْنَ وَلاَ يَكْتَوُوْنَ وَعَلَى  رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنَ, فَقَامَ عُكَّاشَةُ بْنُ مِحْصَنٍ فَقَالَ:  اُدْعُ اللهَ أَنْ يَجْعَلَنِيْ مِنْهُمْ, فَقَالَ: أَنْتَ مِنْهُمْ, ثُمَّ  قَامَ رَجُلٌ آخَرُ فَقَالَ: اُدْعُ اللهَ أَنْ يَجْعَلَنِيْ مِنْهُمْ,  فَقَالَ: سَبَقَكَ بِهَا عُكَّاشَةُ</p>
<p>&#8220;Umat-umat telah diperlihatkan  kepadaku; aku melihat seorang nabi dan bersamanya sekelompok kecil  pengikutnya; seorang nabi lagi bersama satu-dua orang (dari kalangan  pengikutnya), dan seorang nabi lagi yang tak ada seorangpun bersamanya.  Tiba-tiba diangkatkan kepadaku kelompok besar; aku kira bahwa mereka  adalah umatku. Lalu disampaikan kepadaku, &#8220;Ini adalah Musa -Shollallahu  ‘alaihi wasallam- dan kaumnya. Tapi lihatlah ke ufuk!&#8221; Lalu aku lihat  (ke ufuk), maka tiba-tiba ada sebuah kelompok besar. Kemudian  disampaikan kepadaku, &#8220;Lihatlah ke ufuk yang lain&#8221;. Lalu tiba-tiba ada  sebuah kelompok besar lagi. Dikatakan kepadaku, &#8220;Ini adalah umatmu,  bersama mereka ada 70 ribu orang yang akan masuk surga tanpa hisab  (perhitungan), dan siksaan&#8221;. Kemudian Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa  sallam- bangkit dan masuk ke rumahnya. Manusia pun berbincang-bincang  tentang orang-orang yang akan masuk surga tanpa hisab dan siksaan. Ada  yang berkata, &#8220;Mungkin mereka adalah yang telah menemani Rasulullah  -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-&#8221;. Sebagian lagi berkata, &#8220;Mungkin mereka  adalah orang-orang yang dilahirkan dalam Islam, dan tidak  mempersekutukan Allah (dalam beribadah kepada-Nya)&#8221;. Lalu mereka  menyebutkan beberapa perkara lain. Kemudian Rasulullah -Shallallahu  ‘alaihi wa sallam- keluar menemui mereka seraya bersabda, &#8220;Apa yang  kalian perbincangkan?&#8221; Mereka pun mengabarkan hal itu kepada beliau.  Beliau bersabda, &#8220;Mereka adalah orang-orang yang tidak ber-tathoyur  (merasa sial karena suatu hari atau benda), tidak pernah meminta ruqyah  (jampi), dan tidak pula berobat dengan cos (besi panas), dan mereka  hanya bertawakkal kepada Robb-nya&#8221;. Lalu bangkitlah Ukkasah bin Mihshon  seraya berkata, &#8220;Berdoalah kepada Allah agar Dia menjadikan aku termasuk  diantara mereka&#8221;. Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,  &#8220;Engkau termasuk diantara mereka&#8221;. Kemudian ada lagi seorang laki-laki  yang lain berdiri seraya berkata, &#8220;Berdoalah kepada Allah agar Dia  menjadikan aku termasuk diantara mereka&#8221;. Beliau bersabda, &#8220;Engkau telah  didahului Ukkasayah&#8221;. [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (3410, 5705,  5752, 6472, &amp; 6541), dan Muslim dalam Shohih-nya (220)]</p>
<p>Perhatikanlah  keutamaan yang diraih oleh orang yang bertawakkal secara sempurna  kepada Allah; ia akan masuk surga, tanpa hisab dan siksaan. Inilah salah  satu bentuk realisasi tauhid. Seorang yang bertauhid akan memurnikan  tawakkalnya kepada Allah.</p>
<p>Hadits ini memberikan faedah bahwa  meminta ruqyah, melakukan tathoyyur, berobat dengan dengan cara kay (cos  : besi panas); semua ini adalah perkara-perkara yang mengurangi  tawakkal seorang yang melakukannya, karena saat ia melakukan satu  diantaranya, maka dalam hatinya akan terdapat semacam kecondongan dan  ketergantungan kepada selain Allah, yakni ia yakin kepada orang-orang  membantunya melakukan hal-hal itu. Namun bukan berarti bahwa seorang  dilarang berobat ke dokter dengan cara medis, selain cara-cara yang  disebutkan dalam hadits Ukkasyah di atas, Wallahu a’lam. [Lihat  At-Tamhid li Syarh Kitab At-Tauhid (hal. 39-40)]</p>
<p>Syaikh Salim bin  Ied Al-Hilaliy -hafizhahullah- berkata, &#8220;(Di dalam hadits ini) terdapat  keutamaan tawakkal kepada Allah -Ta’ala- dan bersandar kepadanya dalam  mencegah suatu musibah, atau mendatangkan manfaat&#8221;. [Lihat Bahjah  An-Nazhirin (1/153)]</p>
<p>Inilah keutamaan besar yang Allah janjikan  dan karuniakan kepada orang-orang yang merealisasikan tauhidnya hanya  untuk Allah -Azza wa Jalla-. Semoga Allah menjadikan kita orang-orang  yang mendapatkan keutamaan ini sebagaimana halnya sahabat yang mulia,  Ukkasyah bin Mihshon Al-Asadiy Al-Badriy -radhiyallahu ‘anhu-.</p>
<p>Sumber  : Buletin Jum’at At-Tauhid edisi 101 Tahun II. Penerbit : Pustaka Ibnu  Abbas. Alamat : Pesantren Tanwirus Sunnah, Jl. Bonto Te’ne No. 58, Kel.  Borong Loe, Kec. Bonto Marannu, Gowa-Sulsel. HP : 08124173512 (a/n Ust.  Abu Fa’izah). Pimpinan Redaksi/Penanggung Jawab : Ust. Abu Fa’izah Abdul  Qadir Al Atsary, Lc. Dewan Redaksi : Santri Ma’had Tanwirus Sunnah –  Gowa. Editor/Pengasuh : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc.  Layout : Abu Dzikro. Untuk berlangganan/pemesanan hubungi : Ilham  Al-Atsary (085255974201). (infaq Rp. 200,-/exp)</p>
<p>http://almakassari.com/artikel-islam/aqidah/keistimewaan-orang-bertauhid.html</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mimbarsunnah.org/keistimewaan-orang-bertauhid/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
